Rabu, 24 Oktober 2012

Mencegah Keracunan Makanan


Keracunan makan merupakan gastroenteritis yang disebabkan oleh makan yang telah dicemari racun. Gejala yang terjadi bergantung kepada jenis racun, misalnya kekejangan abdomen, demam, muntah yang dapat terjadi selama 3 hingga 24 jam. Jika makanan telah dicemari bakteria, bakteri akan menghasikan racun yang dikenal dengan toksin. Toksin memberi efek langsung pada lapisan usus dan menyebabkan peradangan.ada berbagai jenis bakteria yang menyebabkan keracunan makanan, tetapi yang biasa didapati adalah salmonella, shigella, staphylococcus dan E.coli yang merupakan penyebab utama keracunan makanan di kalangan bayi, terutama bayi yang menyusu boto. Keracunan makanan dapat pula berasal bukan dari bakteria, malainkan berbagai jenis bahan berbahaya lainnya.
Tanda-tanda keracunan makanan secara rinci di antaranya:
Ø  Kekejangan otot
Ø  Demam
Ø  Sering buang air besar, tinja cair, dan mungkin disertai darah, nanah atau mukus
Ø  Muntah
Ø  Oto-otot lemah dan badan terasa seram sejuk
Ø  Hilang selera makan.

Jika usai menyentap makanan Anda menemui tanda-tanda seperti di atas maka harus dilakukan segera adalah mengusahakan untuk sebanyak mungkin muntah. Kemudian, banyak-banyaklah minum air putih yang ditambah gula dan garam ataupun susu dan segera pergi ke dokter.
Ada enam langkah mencegah keracunan seperti dimasyarakatkan Departemen Kesehatan RI yang dimulai dari pemilihan bahan makanan, penyimpanan makanan mentah, pengolahan bahan makanan, penyimpanan makanan jadi, pengangkutan, dan penyajian.semua itu bertujuan menyediakan makanan sehat dan aman dikonsumsi, dengan menekankan pentinganya aspek higiene dan sanitasi.
1.      Pemilihan bahan makanan
Pemilihan bahan makanan akan lebih efektif bila dibeli dalam jumlah terbatas. Khusus untuk makanan mudah rusak, proses seleksi lebih baik dilakukan saat pengolahan. Lalu, seleksi makanan yang tidak mudah rusak dilakukan saat penyimpanan. Yang berkondisi tidak baik disingkirkan agar tidak mencemari bahan makanan lain yang berkondisi baik.

2.      Menyimpan bahan makanan
Dalam menyimpan bahan makanan hendaknya kita bedakan antara bahan makanan yang tidak mudah rusak dan mudah rusak. Yang gampang rusak disimpan di lemari es atau gudang berpendingin, sedangkan yang awet cukup ditaruh di gudang biasa atau lemari bahan makanan. Yang penting, tempatnyabebas tikus. Hendaknya bahan makanan yang lebih dahulu kitabeli dipakai labih awal untuk menghindari kerusakan bahan makanan akibat penyimpanan terlalu lama. Tempat penyimpnan hendaknya mudah dibersihkan dan penempatannya dipisahkan dari bahan kimia.

3.      Pengolahan bahan makanan menjadi makanan siap saji
Banyak kasus keracunan terjadi karena tenaga pengolahannya tidak memperhatikan aspek higienen dan sanitasi. Oleh karena itu, hal ini harus benar-benar diperhatikan seperti menjaga kebersihan kuku, pakaian kerja, dan rambut. Hindari perilaku yang kurang baik sewaktu mengolah makanan seperti merokok, tidak mencuci tangan setelah dari kamar kecil, dan tetap mengolah makanan meskipun dalam keadaan sakit karena hal ini akan memperbesar risiko terjadinya keracunan.

4.      Hati-hati dengan makanan setengan matang
Jangan pernah menyimpan makanan setengah matang secara sembarangan hanya karena berpikirran akan dimasak lagi. Bisa jadi suhu untuk memanaskan makanan menjadi setengah matang tidak cukup untuk membunuh kuman. Jadi, lebih baik simpan makanan setengan matang dalam wadah tertutup untuk menghindari kontaminasi. Lalu, panaskan sampai sempaurna ketika hendak disajikan. Sebagian besar bakteri akan tewas oleh panas.

5.      Kalau terlanjur terjadi keracunan
Kalau keracunan terjadi, tentu saja diperlukan langkah penyelamatan. Korban segera dibawa ke Puskesmas atau rumah sakit terdekat. Sementara itu, sisa makanan segera disimpan di lemari pendingin. Jumlah yang diamankan tak perlu banyak-banyak, cukup setengah hingga satu piring kecil. Pada hari itu pula laporkan kejadiannya kepada Dinas Kesehatan, Puskesmas, atau rumah sakit terdekat.
Dugaan penyebab keracunanbiasanya diketahui setelah petugas kesehatan melakukan serangkaian wawancara dengan korban dan penyedia makanan. Adapun kesimpulan akhir penyebab keracunan akan diketahui dari hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sisa makanan. Contoh makanan biasanya akan diambil petugas kesehatan untuk diperiksa di lab setelah mendapatkan laporan. Ada banyak pemeriksaan yang akan dilakukan. Selain pemeriksaan kimiawi, ada juga biologis. Biaya pemeriksaan menjadi tanggung jawab pemerintah. Jadi, tidak perlu pusing memikirkan soal biaya untuk melakukannya.
Menghadapi kemungkinan terjadinya keracunan, ada baiknya dilakukan penyimpanan ”arsip” makanan yaitu sejumlah kecil makanan yang disisihkan dan disimpan di lemari pendingin untuk bahan pemeriksaan bila terjadi keracunan makanan.

Sumber: Yuliarti, Nurheti. 2007. Awas Bahaya Di Balik Lezatnya Makanan. Yogyakarta: Andi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar