Keracunan makan merupakan
gastroenteritis yang disebabkan oleh makan yang telah dicemari racun. Gejala
yang terjadi bergantung kepada jenis racun, misalnya kekejangan abdomen, demam,
muntah yang dapat terjadi selama 3 hingga 24 jam. Jika makanan telah dicemari
bakteria, bakteri akan menghasikan racun yang dikenal dengan toksin. Toksin
memberi efek langsung pada lapisan usus dan menyebabkan peradangan.ada berbagai
jenis bakteria yang menyebabkan keracunan makanan, tetapi yang biasa didapati
adalah salmonella, shigella,
staphylococcus dan E.coli yang
merupakan penyebab utama keracunan makanan di kalangan bayi, terutama bayi yang
menyusu boto. Keracunan makanan dapat pula berasal bukan dari bakteria,
malainkan berbagai jenis bahan berbahaya lainnya.
Tanda-tanda keracunan makanan secara
rinci di antaranya:
Ø Kekejangan otot
Ø Demam
Ø Sering buang air besar, tinja cair, dan mungkin
disertai darah, nanah atau mukus
Ø Muntah
Ø Oto-otot lemah dan badan terasa seram sejuk
Ø Hilang selera makan.
Jika usai menyentap makanan Anda menemui tanda-tanda seperti di atas maka harus dilakukan segera adalah mengusahakan untuk sebanyak mungkin muntah. Kemudian, banyak-banyaklah minum air putih yang ditambah gula dan garam ataupun susu dan segera pergi ke dokter.
Ada enam langkah mencegah keracunan
seperti dimasyarakatkan Departemen Kesehatan RI yang dimulai dari pemilihan
bahan makanan, penyimpanan makanan mentah, pengolahan bahan makanan,
penyimpanan makanan jadi, pengangkutan, dan penyajian.semua itu bertujuan
menyediakan makanan sehat dan aman dikonsumsi, dengan menekankan pentinganya
aspek higiene dan sanitasi.
1.
Pemilihan bahan
makanan
Pemilihan
bahan makanan akan lebih efektif bila dibeli dalam jumlah terbatas. Khusus
untuk makanan mudah rusak, proses seleksi lebih baik dilakukan saat pengolahan.
Lalu, seleksi makanan yang tidak mudah rusak dilakukan saat penyimpanan. Yang
berkondisi tidak baik disingkirkan agar tidak mencemari bahan makanan lain yang
berkondisi baik.
2.
Menyimpan bahan
makanan
Dalam
menyimpan bahan makanan hendaknya kita bedakan antara bahan makanan yang tidak
mudah rusak dan mudah rusak. Yang gampang rusak disimpan di lemari es atau
gudang berpendingin, sedangkan yang awet cukup ditaruh di gudang biasa atau
lemari bahan makanan. Yang penting, tempatnyabebas tikus. Hendaknya bahan
makanan yang lebih dahulu kitabeli dipakai labih awal untuk menghindari
kerusakan bahan makanan akibat penyimpanan terlalu lama. Tempat penyimpnan
hendaknya mudah dibersihkan dan penempatannya dipisahkan dari bahan kimia.
3.
Pengolahan bahan
makanan menjadi makanan siap saji
Banyak
kasus keracunan terjadi karena tenaga pengolahannya tidak memperhatikan aspek
higienen dan sanitasi. Oleh karena itu, hal ini harus benar-benar diperhatikan
seperti menjaga kebersihan kuku, pakaian kerja, dan rambut. Hindari perilaku
yang kurang baik sewaktu mengolah makanan seperti merokok, tidak mencuci tangan
setelah dari kamar kecil, dan tetap mengolah makanan meskipun dalam keadaan
sakit karena hal ini akan memperbesar risiko terjadinya keracunan.
4.
Hati-hati dengan
makanan setengan matang
Jangan
pernah menyimpan makanan setengah matang secara sembarangan hanya karena
berpikirran akan dimasak lagi. Bisa jadi suhu untuk memanaskan makanan menjadi
setengah matang tidak cukup untuk membunuh kuman. Jadi, lebih baik simpan
makanan setengan matang dalam wadah tertutup untuk menghindari kontaminasi.
Lalu, panaskan sampai sempaurna ketika hendak disajikan. Sebagian besar bakteri
akan tewas oleh panas.
5.
Kalau terlanjur
terjadi keracunan
Kalau
keracunan terjadi, tentu saja diperlukan langkah penyelamatan. Korban segera
dibawa ke Puskesmas atau rumah sakit terdekat. Sementara itu, sisa makanan
segera disimpan di lemari pendingin. Jumlah yang diamankan tak perlu
banyak-banyak, cukup setengah hingga satu piring kecil. Pada hari itu pula
laporkan kejadiannya kepada Dinas Kesehatan, Puskesmas, atau rumah sakit
terdekat.
Dugaan
penyebab keracunanbiasanya diketahui setelah petugas kesehatan melakukan
serangkaian wawancara dengan korban dan penyedia makanan. Adapun kesimpulan
akhir penyebab keracunan akan diketahui dari hasil pemeriksaan laboratorium
terhadap sisa makanan. Contoh makanan biasanya akan diambil petugas kesehatan
untuk diperiksa di lab setelah mendapatkan laporan. Ada banyak pemeriksaan yang
akan dilakukan. Selain pemeriksaan kimiawi, ada juga biologis. Biaya
pemeriksaan menjadi tanggung jawab pemerintah. Jadi, tidak perlu pusing
memikirkan soal biaya untuk melakukannya.
Menghadapi
kemungkinan terjadinya keracunan, ada baiknya dilakukan penyimpanan ”arsip”
makanan yaitu sejumlah kecil makanan yang disisihkan dan disimpan di lemari
pendingin untuk bahan pemeriksaan bila terjadi keracunan makanan.
Sumber: Yuliarti,
Nurheti. 2007. Awas Bahaya Di Balik
Lezatnya Makanan. Yogyakarta: Andi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar